Tokoh-tokoh Filosof Sejarah

Alangkah baiknya sebelum kita beranjak  lebih lanjut mengenai para filsuf-filsuf yang dengan fikiran-fikiran mereka dapat menggerakkan bahkan mengubah dunia seperti Karl Marx, Oswald Spengler, Arnold Joseph Toynbee, Santo Agustinus, serta Giambatista Vico. Pada paper ini  saya akan memberikan sedikit ulasan mengenai apa itu filsafat sejarah, teori gerak sejarah dan juga gerak sejarah.

Filsafat secara harfiah berasal kata Philo berarti cinta, Sophos berarti ilmu atau hikmah, jadi filsafat secara istilah berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Pengertian dari teori lain menyatakan kata Arab falsafah dari bahasa Yunani, philosophia: philos berarti cinta (loving), Sophia berarti pengetahuan atau hikmah (wisdom), jadi Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta pada kebenaran. Pelaku filsafat berarti filosof, berarti: a lover of wisdom. Orang berfilsafat dapat dikatakan sebagai pelaku aktifitas yang menempatkan pengetahuan atau kebijaksanaan sebagai sasaran utamanya.

 

Pengertian filsafat sejarah sebenarnya bukan hanya sekedar pengalihan dari penggabungan dua makna secara etimologis,  yaitu kata filsafat dan sejarah,  melainkan merupakan sebagai pembahasan satu disiplin ilmu.  Filsafat sejarah memiliki wawasan pembahasan,  metode,  paradigma atau perspektifnya tersendiri.  Filsafat sejarah lahir dari rasa ingin tahu dan kesadaran untuk mencari apa yang dimiliki manusia.  Keingintahuan manusia tentang peristiwa yang telah terjadi,  tergerak pada bangsa,  masyarakat atau individual tertentu,  bermuara pada pemahaman,  dan pengkajian peristiwa itu secara filsafat.

 

Filsafat sejarah adalah ilmu yang mempelajari perkembangan dan penyebaran hukum-hukum atau dasar-dasar kebangkitan dan sebab-sebab runtuhnya suatu bangsa untuk pergerakan masyarakat dan bangsa-bangsa itu sendiri.  Dan bisa dikatakan bahwa filsafat sejarah adalah ‘ibarah atau istilah tentang suatu pandangan terhadap kenyataan sejarah dilihat dari segi filsafat.

 

Ada  beberapa macam teori gerak sejarah, di antaranya teori siklus, teori gerak spiral dan teori gerak linear. Teori siklus adalah teori yang menyatakan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan keruntuhan, dimana proses tersebut terus berputar. Teori gerak linear adalah teori yang menyatakan bahwa sejarah bergerak maju tanpa batas. Sedangkan teori gerak spiral adalah teori yang menyatakan bahwa dalam gerak sejarah terdapat tantangan, jawaban, tantangan, jawaban dan begitu seterusnya.

 

Mengenai siapa yang menentukan gerak sejarah, terdapat 2 macam kesimpulan, yaitu indeterminis dan determinis. Pengertian dari Indeterminis adalah manusia bebas menentukan nasibnya sendiri. Sedangkan pengertian dari determinis adalah manusia tidak bebas menentukan nasibnya sendiri. Akan tetapi ada pula yang mengatakan yang menentukan gerak sejarah adalah keseimbangan anatara Tuhan dan manusia.

 

  1. A.     KARL MARX

 

Karl Marx lahir di bulan Mei 1818 di Trier, Jerman. Ayahnya seorang pengacara yang awalnya beragama Yahudi beralih menjadi beragama Kristen Protestan. Perpindahan agama ayahnya yang begitu mudah diduga merupakan alasan Karl Marx tidak pernah tertarik dengan agama. Karl Marx lebih menyukai menjadi penyair daripada seorang ahli hukum. Hukum memang pernah menjadi ilmu yang disenanginya sebelum akhirnya ia memutuskan pindah ke Universitas Berlin dan fokus pada filsafat.

Pada tahun 1841, di usianya yang ke-23, Marx dipromosikan menjadi doktor desertasi The Difference Between The Natural Philosophy of Democritus and Epicurus. Kertas kerja dan pengantar disertasi ini secara jelas menunjukkan Marx Hegelian dan anti agama. Hal terakhir ini juga yang membuat ia dicap sesat dan mulai dijauhi rekan-rekannya.

Selama hampir setahun ia menjadi pimpinan redaksi sebuah harian radikal 1843, setelah harian itu dilarang oleh pemerintah Prussia, ia menikah dengan Jenny Von Westphalen, putri seorang bangsawan dan ia pindah ke Paris. Di Paris, ia mempelajari ekonomi politik dan sejarah revolusi Prancis. ia memulai kritiknya terhadap agama dan membangun konsep komunismenya. Marx dikenal atas analisisnya terhadap gerak sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas. Pemikiran itu ia tuangkan pada sebuah kalimat pembuka dalam buku Manifesto Komunis, karyanya bersama Friedrich Engels. Menurutnya, peristiwa sejarah pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas. Paham itu kemudian dikenal sebagai marxisme. ia percaya kapitalisme akan digantikan komunisme yang ditandai dengan adanya masyarakat tanpa kelas, dan diktator proletariat akan menjadi penguasa negara. Ide-idenya mulai menunjukkan pengaruh besar dalam perkembangan pekerja setelah ia meninggal dunia. Perkembangan pengaruh itu didorong Revolusi Oktober 1917 pimpinan Vladimir Lenin. Hingga kini, marxisme tetap berpengaruh dalam ranah pemikiran ekonomi politik kontemporer.[1] Selain berteman baik dengan Friedrich Engels, ia juga berkenalan dengan tokoh-tokoh sosialis Perancis. Ia yang dulunya seorang liberal beralih menjadi seorang sosialis.

Tahun 1844, Marx menulis buku Economic and Philosophic Manuscripts. Karya ini tersembunyi dari pandangan publik hampir selama seratus tahun. Sebelum naskah-naskah Marx muda ditemukan dan diterbitkan, Marxisme telah dipelajari khususnya melalui karya Marx dewasa sebagai sebuah sistem ilmiyah atau sebuah sosialis ilmiyah, seperti disebutkan Marx dan engels sendiri, sebagai interpretasi sejarah matrealistis dan ekonomi yang menjadi pijakan filsafat sejarah idealistik Hegel. Generasi-generasi sarjana Marx telah menerima pandangan Marx, bahwa arti sejarah ditemukan dalam kaum buruh, pandangan kelass, kesadaran kelass dan revolusi mengalahkan kapitalisme. Sebagai sebuah teori ilmiyah, Marxisme dianggap tidak memiliki makna moral, religius atau filsafat, namun serta merta sebuah penjelasan tentang hukum-hukum ekonomi yang berkaitan dengan perubahan sejarah.[2]

Matrealisme Historis

Pemikiran Marx telah menjadi inspirasi dasar Marxisme sebagai ideologi perjuangan kaum buruh, yang menjadi komponen inti dari ideologi komunisme. Pemikirannya juga telah menjadi salah satu rangsangan besar bagi perkembangan sosiologi, ilmu ekonomi, dan filsafat kritis. Pemikiran Marx tidak hanya sekedar teori, melainkan ideologi yang dikenal dengan ideologi Marxisme dan Komunisme. Ideologi ini dalam sejarah telah menjadi kekuatan sosial dan bahkan politik.

Motor perubahan dan perkembangan menurut Marx adalah pertentangan antara kelas-kelas sosial, bukan oleh individu-individu tertentu. Menurutnya, tidak tepat jika sejarah dipandang sebagai hasil tindakan raja-raja dan orang-orang besar lainnya. Apa yang diusahakan dan diputuskan oleh orang-orang besar yang dikenal dari buku-buku sejarah populer, meskipun tidak pernah tanpa kepentingan atau cita-cita, dalam garis besarnya selalu akan bergerak dalam rangka kepentingan kelas mereka serta mencerminkan struktur kekuasaan kelas-kelas dalam masyarakat yang bersangkutan.

Yang menjadi pokok-pokok pikiran dalam matrealisme historis, yaitu:

  1. Faktor yang paling penting yang menyebabkan perkembangan sejarah adalah faktor ekonomis. Dari basis tersebut timbul segala yang disebut rohani dan akibat-akibat perbuatan rohani seperti kebudayaan, kesenian, agama dan lain-lain.
  2. Basis itu bergerak secara dialektis dan sebab akibat gerakan itu adalah pertentangan sosial. Selanjutnya pertentangan itu menyebabkan perjuangan kaum buruh terhadao kelas dan kemenangannya berarti memecahkan sama sekali pertentangan kelas-kelas itu.

Menurut Marx, perkembangan masyarakat ditentukan oleh bidang ekonomi. Ciri khas bidang ekonomi konflik antara para pemilik alat-alat produksi dan para pekerja. Yang pertama adalah kelas atas karena mereka menguasai bidang produksi dan hidup dari penghisapan kaum buruh. Kaum buruh adalah kelas bawah yang terpaksa menjual tenaga kerja mereka kepada para pemilik. Negara (bangunan atas politik) dikuasai oleh ekonomi dan oleh karena itu melayani kepentingan mereka. Agama, pandangan-pandangan moral, dan nilai-nilai budaya (bangunan atas ideologis) memberikan legitimasi pada struktur kekuasaan kelas tersebut. Konflik antara kelas atas dan kelas bawah selalu memuncak dalam sebuah revolusi yang menjungkirbalikkan seluruh tatanan lama dan meletakkan dasar tatanan baru yang akan berkembang menurut hukum yang sama. Oleh karena itu, manifesto komunis (1848) menyatakan bahwa sejarah semua masyarakat sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas.[3]

 

Gerak Sejarah Menurut Marx 

Menurut Karl Marx, gerak sejarah tidak menuju akhirat, tetapi menuju ke arah duniawi. Dalam hal ini, faham yang sangat terkenal dari Karl Marx adalah faham historical-matrealism atau economic-determinism. Sedangkan mengenai teori gerak sejarahnya, dalam buku Berfilsafat dari Konteks, Franz Magnis menuliskan bahwa teori gerak sejarah yang dianut oleh Marx ialah teori siklus. Hal ini dikarenakan adanya revolusi yang mampu berubah tatanan sosial yang awalnya oleh kaum borjuis justru bisa dikuasai oleh kaum proletar.[4]

 

  1. B.     OSWALD SPENGLER

 

Oswald Spengler Gottfried Arnold Manuel lahir pada tanggal 29 mei 1880 di Blakenburg (sekarang Brunswick, Kekaisaran Jerman) di kaki pegunungan Harz. Ia merupakan putra sulung dari empat bersaudara sekaligus putra tunggal dalam keluarga. Ia memiliki kesehatan yang tidak sempurna dengan menderita migrain (sakit kepala) sepanjang hidupnya dan menderita kecemasan yang kompleks.[5] Ayahnya seorang teknisi pembangunan di salah satu kantor pos birokrat Jerman.

Di usianya yang ke-10, ia beserta keluarga pindah ke kota Halle. Spengler menerima pendidikan klasik di lokal Gymnasium (sekolah menengah berorientasi akademis) dengan mempelajari  bahasa Yunani dan Latin, matematika, dan ilmu alam. Selain itu, ia juga mengembangkan afinitas seninya, terutama puisi, drama dan musik.

Setelah kematian ayahnya pada 1901, Spengler mengikuti studi di beberapa perguruan tinggi (Munich, Berlin, dan Halle) dengan mengambil  berbagai mata pelajaran, seperti sejarah, filsafat, matematika, ilmu alam, sastra, klasik, musik dan seni. Pendidikan universitasnya sebagian besar dibiayai oleh warisan almarhum bibinya.[6] Pada tahun 1903, ia gagal  lulus dalam ujian pertama tesis dokternya. Barulah setahun kemudian ia lulus ujian keduanya dan menerima gelar Ph. D.

Ia menjabat sebagai guru di Saarbrucken  dan kemudian di Dusseldorf. Pada tahun 1908-1911, ia bekerja di sekolah tinggi praktis (realgymnasium) di Hamburg dengan mengajarkan ilmu pengetahuan, sejarah jerman dan matematika. Setelah kematian ibunya, ia pindah ke Munich. Ia hidup sederhana dengan sedikit warisan yang tersisa. Ia juga bekerja sebagai tutor atau menulis untuk majalah atau surat kabar demi mendapatkan penghasilan tambahan.[7]

Ia mulai menulis sebuah buku pengamatan politik, sebagai eksposisi dan penjelasan tentang tren pada saat itu di Eropa mengenai perlombaan senjata. Namun pada akhir 1911, ia melihat kemajuan Eropa yang dapat dikatakan telah mencapai puncak, dan hal tersebut menjurus pada kematian atau akhir budaya Eropa di dunia dan dalam sejarah. Meletusnya Perang Dunia I pada 1914-1918 membenarkan keabsahan tesis dalam pikirannya yang sudah dikembangkan. Hal ini membuat pekerjaan yang direncanakannya terus meningkat dalam ruang lingkup yang melampui batas aslinya. Dan menghasilkan karya Der Untergang des Abendlandes atau dalam bahasa Inggris berarti Decline of the West atau Keruntuhan Dunia Barat. Kitab karangannya ini, mampu mempengaruhi banyak orang dan cendikiawan Eropa-Amerika. Spengler seperti ahli nujum yaitu meramalkan keruntuhan Eropa.[8] Buku ini selesai pada 1914 tetapi pada saat itu terjadi Perang Dunia I dan diterbitklan pada 1918. Ia mengajukan teori siklus dari naik-turunnya peradaban.

Spengler menghabiskan akhir tahun di Munich.  Sebelum kematiannya, ia menulis surat kepada temannya dan mengatakan bahwa Reich Jerman, dalam 10 tahun mungkin tidak akan ada lagi. Dia meninggal pada tanggal 8 mei 1936 di Munich akibat serangan jantung tepat sembilan tahun sebelum jatuhnya Reich.[9]

Teori Gerak Sejarah Menurut Oswald Spengler

Oswald Spengler berpandangan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan keruntuhan. Proses perputaran itu memakan waktu sekitar seribu tahun.[10] Pernyataan Spengler tersebut tercantum dalam karyanya Der Untergang des Abendlandes (Decline of the West) atau Keruntuhan Dunia Barat/Eropa. Spengler meramalkan keruntuhan Eropa berdasarkan atas keyakinan bahwa gerak sejarah ditentukan oleh hukum alam yang disebut nasib, fatum atau dalam bahasa Jerman Schicksal. Dalil Spengler ialah bahwa kehidupan sebuah kebudayaan dalam segalanya sama dengan kehidupan tumbuhan, hewan, manusia dan alam semesta (makro dan mikro kosmos). Persamaan itu berdasarkan kehidupan yang dikuasai oleh hukum siklus sebagai wujud dari fatum. Fatum adalah hukum alam yang menjadi dasar segala hukum cosmos, setiap kejadian, setiap peristiwa akan terjadi lagi, terulang lagi.

Setiap masa pasti datang menurut waktunya, itulah keharusan alam yang pasti terjadi. Manusia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menerima amorfati. Seperti halnya historikal materialisme, paham Spengler tentang kebudayaan pasti runtuh apabila sudah melewati puncak kebesarannya. Oleh sebab itu keruntuhan suatu kebudayaan dapat diramalkan terlebih dahulu menurut perhitungan. Suatu kebudayaan mendekati keruntuhan apabila kultur sudah menjadi Civilization (kultur adalah kebudayaan, civilization adalah peradaban yaitu kebudayaan yang sudah tidak dapat tum sudah tidak dapat tumbuh lagi). Apabila kultur sudah kehilangan jiwanya, maka daya cipta dan gerak sejarah akan membeku.

Gerak sejarah tidak bertujuan sesuatu kecuali melahirkan, membesarkan, mengembangkan dan meruntuhkan kebudayaan (siklus kehidupan). Spengler menyelidiki kebudayaan Barat dan setelah membandingkan kebudayaan Barat dengan sejarah kebudayaan-kebudayaan yang sudah tenggelam (misalnya: Babilonia, Mesir, Meksiko atau Aztec, Arab, Yunani dan Romawi yang masuk dalam budaya Klasik, serta Eropa atau Barat). Spengler  berkesimpulan bahwa[11]:

a)      Kebudayaan Barat sudah sampai pada masa-tua (musim dingin), yaitu masa civilization

b)      Sesudah masa civilization itu kebudayaan Barat pasti-mesti-terus runtuh

c)      Manusia Barat harus dengan bersikap berani menghadapi keruntuhan itu.

 

  1. C.     ARNOLD J. TOYNBEE

 

Arnold Joseph Toynbee lahir di London, Inggris pada tanggal 14 April tahun 1889. Ia merupakan seorang sejarawan besar penulis buku monumental yang mengulas tentang peradaban manusia, A Study of History sejumlah 12 jilid.[12] Ia menamatkan studinya di Winchester College dan Baliol College di Oxford Inggris serta di British Archaeological School di Athena Yunani. Ia memulai karir sebagai pengajar di Balliol pada tahun 1912, kemudian menjadi pengajar di King’s College London, menjadi Profesor sejarah Modern Yunani dan Binzantium, menjadi guru besar sejarah internasional di Universitas London pada 1925-1946, serta pada London School Economics dan di Royal Institute of International Affairs (RIIA) di Chatam House. Kemudian ia menjadi pemimpin dari RIIA pada tahun 1925-1955. Ia bekerja pada departemen Ilmu Pengetahuan di Departemen Luar Negeri Inggris dan pada saat perang dunia pertama berlangsung dan kemudian menjadi delegasi pada Paris Peace Conference pada tahun 1919 dan pada 1946 menjadi delegasi untuk acara yang sama. Bersama dengan asisten penelitinya, Veronica M. Boulter, ia menjadi co-editor Survey of International Affairs yang diadakan RIIA. Pada saat perang dunia kedua, dia kembali bekerja di departemen luar negeri dan menjadi pembicara pada seminar tentang perdamaian.[13]

Mengenai kehidupan pribadinya, ia pernah menikah dengan Rosalind Murray, putri dari Gilbert Murray dan dikaruniai tiga orang putera. Namun mereka bercerai, dan kemudian Toynbee menikah dengan Veronica M. Boulter (asisten penelitinya) pada tahun 1946. Toynbee meninggal pada 22 Oktober 1975.[14]

Teori Gerak Sejarah Menurut Arnold J. Toynbee

Pemikiran Toynbee tentang peradaban adalah bahwa peradaban selalu mengikuti alur mulai dari kemunculan sampai kehancuran. Teori Toynbee ini senada dengan hukum siklus. Artinya ada kelahiran, pertumbuhan, kematian, kemudian disusul dengan kelahiran lagi, dan seterusnya. Pemikiran Toynbee ini senada dengan teori yang berkembang di Yunani pada masa pra-Socrates.[15] Pemikiran tersebut juga senada dengan teori gerak sejarah menurut beberapa tokoh lain. Ibnu Khaldun, Vico, Spengler, P. A. Sorokin serta Toynbee dipandang sebagai tokoh gerak siklus sejarah, meskipun harus diakui bahwa di antara mereka terdapat perbedaan mengenai rinciannya.[16] Misalnya saja antara Toynbee dengan Spengler. Toynbee menolak paham deterministik Spengler yang menggambarkan bahwa peradaban timbul dan tenggelam sebagai sebuah siklus yang mengikuti kehendak alam. Menurut Spengler kehancuran adalah layaknya organisme yang pasti terjadi dan tidak bisa ditahan. Sedangkan menurut Toynbee kehancuran bisa ditahan. Dengan penggantian segala norma-norma kebudayaan dengan norma-norma Ketuhanan, menurutnya itu merupakan upaya untuk menahan kehancuran/keruntuhan kebudayaan/peradaban. Ia juga menyatakan bahwa dengan penggantian itu, tampaklah pula tujuan gerak sejarah, yakni kehidupan ketuhanan, atau dengan bahasan yang lebih konkret adalah Kerajaan Allah (Civitas Dei).

Menurut Toynbee gerak sejarah melalui tingkatan-tingkatan seperti berikut:

  1. Genesis of civilization (lahirnya peradaban)
  2. Growth of civilization (perkembangan peradaban)
  3. Decline of civilization (keruntuhan peradaban)

Keruntuhan kebudayaan berlangsung dalam tiga fase, yakni:

  1. Breakdown of civilizations (kemerosotan peradaban)
  2. 2.      Desintegration of civilizations (perkembangan peradaban)
  3. 3.      Dissolution of civilizations (hilang dan lenyapnya peradaban).[17]

 

Konsep Peradaban Menurut Arnold J. Toynbee

Toynbee menggambarkan sejarah peradaban manusia merupakan suatu lingkaran perubahan yang berkepanjangan lahir, tumbuh, pecah dan hancur.[18] Dalam proses perputaran itu sebuah peradaban tidak selalu berakhir dengan kemusnahan total. Terdapat kemungkinan bahwa proses itu berulang, meskipun dengan corak yang tidak sepenuhnya sama dengan peradaban yang mendahuluinya. Toynbee menyatakan bahwa peradaban-peradaban baru yang menggantikannya itu dapat mencapai prestasi melebihi peradaban yang digantikannya. Lebih lanjut lagi bagi Toynbee peradaban adalah suatu rangkaian siklus kehancuran dan pertumbuhan, tetapi setiap peradaban baru yang kemudian muncul dapat belajar dari kesalahan-kesalahan dan meminjam kebudayaan dari tempat lain. Dengan demikian, memungkinkan setiap siklus baru memunculkan tahap pencapaian yang lebih tinggi.[19]

Peradaban bagi Toynbee bermula ketika manusia mampu menjawab tantangan lingkungan fisik yang keras kemudian berhasil juga dalam menjawab tantangan lingkungan sosial. Pertumbuhan terjadi tidak hanya ketika tantangan tertentu berhasil diatasi, tetapi juga karena mampu menjawab lagi tantangan berikutnya. Kriteria pertumbuhan itu tidak diukur dari kemampuan manusia mengendalikan lingkungan fisik (misalnya melalui teknologi), atau pengendalian lingkungan sosial (misalnya melalui penaklukan), melainkan diukur dari segi peningkatan kekuatan yang berasal dari dalam diri manusia, yakni semangat yang kuat untuk mengatasi rintangan-rintangan eksternal. Dengan kata lain, kekuatan yang mendorong pertumbuhan itu bersifat internal dan spiritual.

Peradaban muncul karena dua faktor yang berkaitan: adanya minoritas kreatif dan kondisi lingkungan. Antara keduanya tak ada yang terlalu menguntungkan atau terlalu merugikan bagi pertumbuhan kultur. Mekanisme kelahiran dan dinamika kelangsungan hidup kultur dijelmakan dalam konsep tantangan dan tanggapan (challange and response). Lingkungan (mula-mula alamiah, kemudian juga sosial) terus menerus menantang masyarakat, dan masyarakat melalui minoritas kreatif menentukan cara menanggapi tantangan itu. Segera setelah itu tantangan ditanggapi, muncul tantangan baru dan diikuti oleh tanggapan berikutnya.

Toynbee memperkenalkan sejarah dalam kaitan dengan challenge and response. Peradaban muncul sebagai jawaban atas beberapa satuan tantangan kesukaran ekstrim, ketika “minoritas kreatif” yang mengorientasikan kembali keseluruhan masyarakat. Minoritas kreatif ini adalah sekelompok manusia atau bahkan individu yang memiliki “self-determining” (kemampuan untuk menentukan apa yang hendak dilakukan secara tepat dan semangat yang kuat). Dengan adanya minoritas kreatif, sebuah kelompok manusia akan bisa keluar dari masyarakat primitif.[20]

Tantangan dan tanggapan adalah bersifat fisik, seperti ketika penduduk zaman neolithik berkembang menjadi suatu masyarakat yang mampu menyelesaikan proyek irigasi besar-besaran, atau seperti ketika Gereja Agama Katholik memecahkan kekacauan post-Roman Eropa dengan pendaftaran Kerajaan berkenaan dengan bahasa Jerman yang baru di dalam masyarakat religius tunggal.

Peradaban hanya tercipta karena mengatasi tantangan dan rintangan, bukan karena menempuh jalan yang terbuka lebar dan mulus. Toynbee membahas lima perangsang yang berbeda bagi kemunculan peradaban, yakni kawasan yang ganas, baru, diperebutkan, ditindas, dan tempat pembuangan. Kawasan ganas mengacu pada lingkungan fisik yang sukar ditaklukkan, seperti wilayah yang terbiasa untuk banjir bandang yang senantiasa mengancam seperti di sepanjang sungan Hoang Ho, Cina. Kawasan baru mengacu kepada daerah yng belum pernah diolah dan dihuni, sehingga masyarakat akan merasa asing dan melakukan upaya untuk adaptasi. Kawasan yang dipersengketakan, temasuk yang baru ditaklukkan dengan kekuatan militer. Kawasan tetindas menunjukkan suatu situasi ancaman dari luar yang berkepanjangan. Kawasan hukuman atau pembuangan mengacu pada kawasan tempat kelas dan ras yang secara historis telah menjadi sasaran penindasan, diskriminasi, dan eksloitasi.

Namun demikian, tidak semua tantangan bisa dianggap sebagai sebuah rangsangan positif. Ada pula tantangan yang tidak menimbulkan peradaban. Di daerah yang terlalu dingin seolah-olah kegiatan manusia membeku (Eskimo), di daerah yang terlalu panas tidak dapat timbul suatu kebudayaan (Sahara, Kalahari, Gobi). Tantangan itu mungkin sedemikian hebatnya sehingga orang tidak dapat menciptakan tanggapan memadai. Oleh karena itu, tidak ada hubungan langsung antara tantangan dan tanggapan, tetapi hubungannya berbentuk kurva linear. Artinya tingkat kesukaran yang sangat besar dapat membangkitkan tanggapan yang memadai, tetapi tantangan ekstrim dalam arti terlalu lemah dan terlalu keras, tidak mungkin membangkitkan tanggapan memadai.

Dalam fase perpecahan dan kehancuran peradaban, minoritas kreatif behenti menjadi manusia kreatif. Peradaban binasa dari dalam karena kemampuan kreatif sangat menurun padahal tantangan baru semakin meningkat. Kehancuran peradaban disebabkan oleh kegagalan kekuatan kreatif kalangan minoritas dan karena lenyapnya kesatuan sosial dalam masyarakat sebagai satu kesatuan. Apabila minoritas menjadi lemah dan kehilangan daya menciptanya, maka tantangan-tantangan dari alam tidak dapat dijawab lagi. Minoritas menyerah, mundur dan pertumbuhan tidak akan berkembang lagi. Apabila keadaan sudah memuncak seperti itu, keruntuhan mulai nampak. Keruntuhan terjadi dalam tiga tahap, yaitu:

  1. Kemerosotan kebudayaan. Masa ini tejadi karena minoritas kehilangan daya menciptanya dan kehilangan kewibawaannya, sehingga mayoritas tidak lagi bersedia mengikuti minoritas. Peraturan alam dalam kebudayaan yang dibuat antara mayoritas dan minoritas pecah dan tunas-tunas kebudayaan menuju pada kematian.
  2. Kehancuran kebudayaan. Masa ini mulai muncul setelah tunas-tunas kehidupan kebudayaan mati, sehingga pertumbuhannya terhenti. Akibatnya daya hidup kebudayaan membeku dan kebudayaan tersebut menjadi tidak berjiwa lagi. Toynbee menyebut masa ini sebagai petrification atau pembatuan (menjadi fosil) kebudayaan.
  3. Lenyapnya kebudayaan, yaitu apabila tubuh kebudayaan yang sudah membatu itu hancur lebur dan lenyap.[21]

Gerak Sejarah menurut Arnold J. Toynbee

Pandangan Toynbee tentang gerak sejarah adalah bahwa dalam sejarah tidak terdapat suatu hukum tertentu yang menguasai dan mengatur timbul-tenggelamnya kebudayaan-kebudayaan dengan pasti. Toynbee menganjurkan bahwa sejarah harus dipelajari secara holistik. Mempelajari sejarah tidak dapat dipisah-pisahkan antara bagian-bagian yang ada di dalamnya. Mempelajari sejarah harus mempelajari suatu masyarakat secara keseluruhan, masyarakat secara utuh sebagai satu kesatuan unit dari proses sejarah.

 

  1. D.     SANTO AGUTINUS

 

Santo Agustinus lahir pada tanggal 13 November 354 di Tegaste, Algeria, Afrika Utara.[22] Ayahnya bernama Patristius, seorang kafir. Ibunya Santo Monika, seorang Kristen yang saleh. Dia mendapat didikan Kristen dari ibunya.[23] Saat berumur sebelas tahun, ia dikirim ke sekolah Madaurus, suatu sekolah tempat orang kafir. Lingkungan itu mempengaruhi perkembangan moral dan agamanya sementara ibunya mendoakan agar anaknya menerima ajaran Kristen.[24]

Pendidikan dan karier awalnya ditempuh dalam filsafat dan retorika, seni persuasi dan bicara di depan publik. Ia mengajar di Tagaste dan Karthago, namun ia ingin pergi ke Roma karena yakin bahwa di sanalah para ahli retorika yang terbaik dan paling cerdas berlatih. Namun setiba di Roma, ia kecewa dengan sekolah-sekolah di sana, yang dirasa menyedihkan. Sahabat-sahabatnya yang beragama Manikeanis memperkenalkannya kepada kepala kota Roma, Simakhus, yang telah diminta untuk menyediakan seorang dosen retorika untuk istana kerajaan di Milano.[25]

Agustinus  mendapatkan pekerjaan itu dan berangkat ke utara untuk menerima jabatan tersebut pada akhir tahun 384. Di usianya yang ke-30, ia mendapatkan kedudukan akademik yang paling menonjol di dunia Latin. Pada saat itulah ia mendapatkan akses ke jabatan-jabatan politik. Meski demikian, ia merasakan ketegangan dalam kehidupan di istana kerajaan.

Menginjak dewasa, Santo Agustinus mulai berontak dan hidup liar. Sementara hatinya merasa gelisah, ia mencari-cari sesuatu yang dalam berbagai aliran kepercayaan untuk mengisi kekosongan jiwanya. Dalam autobiografinya yang berjudul  Pengakuan-pengakuan (confessions), ia melukiskan masa mudanya sebagai periode sensualitas yang memalukan dengan hasil menjadi ayah bagi seorang putra di luar nikah.[26] Kejadian itu terjadi pada tahun 370, karena bantuan kawannya, Rommanius, ia pergi ke Kartago. Di sana ia tinggal bersama seorang guru wanita yang melahirkan anak untuknya yang bernama Adeodatus pada tahun 371.[27] Agustinus mulai mencari solusi atas keburukan di dunia.

Solusi pertama yang menarik hatinya adalah ajaran para pemikir Manikean, para pengikut Mani (216-276 M).  Doktrin utamanya adalah dunia ini merupakan manifesti peperangan antara dua prinsip ilahi yang sangat kuat, yang satu adalah kebaikan, dan yang lainnya adalah keburukan.[28] Dengan kata lain Manicheisme mengajarkan bahwa  permulaan alam ialah cahaya dan gelap. Cahaya berarti kebaikan dan keindahan, sedangkan gelap berarti keburukan; manusia berjiwa dua, jiwa tubuh yang berasal dari gelap (keburukan) dan jiwa cahaya (kebaikan).[29]

Pada tahun 384, ia pindah ke Roma dan mulai tertarik dengan iman kriten. Membaca Kitab Suci dan mempelajari filsafat Neo-Platonisme, khususnya tentang keberadaan sutu dunia yang immaterial yang secara total berbeda dengan dunia material. Selanjutnya dari Plotinos, ia membuat konsep bahwa kejahatan bukanlah suatu realitas yang harus ada, melainkan absensi dari kebaikan.

Pada tahun 386, ia bertobat dan meninggalkan keahlian retorikanya, menurutnya filsafat yang benar adalah filsafat yang identik dengan pengetahuan akan Allah. Filsafat yang benar adalah filsafat yang saling mempengaruhi antara iman dan rasio.

Dibawah pengaruh Ambrosius dia masuk agama Kristen. Pada tanggal 25 April 387, Santo Augustinus dan anaknya dibaptiskan oleh Uskup Ambrosius, ia memutuskan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan.  Ia seorang Kristen yang taat. Setelah mengalami konversi, ia mengabdikan seluruh dirinya kepada Tuhan dan melayani pengikut-pengikutnya. Pada tahun 388 M ia kembali ke Afrika Utara. Pada tahun 391 ia menjadi pendeta di dekat kota Hippo.

Pada bulan Agustus tahun 430 terjadi peperangan yang menyebabkan Kota Kartago dan Hippo jatuh ke tangan bangsa Vandal. Akhirnya, pada tanggal 28 Agustus 430, ia meninggal dunia. Ide-idenya tidak berlalu begitu saja setelah ia meninggal. Ia menjadi pilar utama tradisi kristen dan pengarunya sangat kuat hingga abad ke-19. Hanya pada seratus tahun terakhir ini saja pemikirannya dianggap asing, aneh, tidak biasa, dan tidak lazim, yang merupakan ciri masyarakat sekuler.[30]  Sejarah filsafat abad pertengahan diawali oleh masa Patristik. Masa ini diisi oleh para pujangga kristen dari abad-abad pertama kekristenan. Mereka berupaya meletakkan dasar intelektual bagi agama Kristen.

 

Landasan Teoretis

Seperti Plato, ia berpendapat, bahwa tugas manusia ialah memahami gejala kenyataan yang selalu berubah.[31]Ia memperjelas perbedaan penginderaan yang memberikan kepada kita pandangan yang semu tentang suatu objek dengan suatu pengertian tentang kebenaran yang sebenarnya atau yang abadi yaitu kebenaran yang berada di luar pengamatan inderawi. Pengetahuan tentang objek-objek melalui panca indera hanyalah pengetahuan yang bersifat semu, tidak akurat dan tidak pasti.

 

Teori Gerak Sejarah Menurut Santo Augustinus

Hakikat teori sejarah adalah suatu gerak yang tumbuh dan berkembang secara revolusi, karena menggambarkan peristiwa sejarah masa lampau secara kronologis. Urutan secara kronologis merupakan pokok teori untuk menggambarkan gerak sejarah.

Sejarah menurut Augustinus adalah perjuangan antara dua unsur yang saling bertentangan, yang baik dan yang buruk. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman hidup yang terurai dari biografinya. Teori gerak sejarah menurutnya ditentukan oleh kehendak Tuhan. Hukum alam menjadi hukum Tuhan, kodrat alam menjadi kodrat Tuhan, Tuhan menentukan takdir, manusia menerima nasib. Gerak manusia bersifat pasif karena segala sesuatunya ditentukan oleh Tuhan.

Agustinus tidak mempercayai bahwa sejarah adalah suatu siklus. Sejarah lebih dari itu ia merupakan kejadian yang diatur oleh Tuhan. Jadi, sejarah sebenarnya mempunyai suatu permulaan dan mempunyai akhir.[32]

Sejarah sebagai wujud kehendak Tuhan ialah bahwa manusia tidak bebas menentukan nasibnya sendiri. Ia menerima nasib dari Tuhan, apa yang diterima sebagai kehendak Tuhan. Tuhan sudah menentukan perjalanan hidup yang sudah ditentukan Tuhan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tuhan sudah menentukan perjalanan hidup manusia dan alam, manusia tidak dapat mengubah garis hidup yang sudah ditentukan. Bagi alam fikiran Yunani manusia menerima segala sesuatu dengan amor fati (gembira), bagi alam kodrat ilahi pemberian Tuhan diterima dengan fiat voluntas tua (kehendak Tuhan terlaksanalah).

Santo Agustinus menghimpun suatu teori sejarah berdasarkan fiat voluntas tua itu. Gerak sejarah dunia diibaratkan riwayat hidup manusia, babakan waktu disusun menurut tingkatan-tingkatan hidup manusia.[33]

 

 

No Santo Agustinus Artinya Zaman
1 Intifia Bayi Adam sampai Nuh
2 Pueritia Kanak-kanak Sem, Jafet
3 Adulescentia Pemuda Ibrahim sampai Daud
4 Inventus Kejantanan Daud
5 Gravitas Dewasa, dewasa bijaksana Babilonia
5 Gravitas Dewasa, dewasa bijaksana Babilonia
6 Kiamat Tua Pemilihan antara baik-jahat

 

Santo Augustinus menerangkan bahwa tujuan gerak sejarah ialah terwujudnya kehendak Tuhan dalam civitas dei atau Kerajaan Tuhan. Civitas dei merupakan tempat manusia pilihan Tuhan yang menerima ajaran Tuhan dan yang menolaknya akan ditampung didalam Civitas Diaboli (kerajaan setan) atau neraka. Selanjutnya ia mengajarkan bahwa hakikat sesungguhnya kehidupan adalah penembusan dosa. Seperti yang ia singgung dalam bukunya “The City of God” bahwasanya Adam sebelum di turunkan ke bumi pernah memiliki kehendak bebas dan bisa terbebas dari dosa. Namun karena dia dan Hawa memakan buah apel maka kerusakan pun merasuki mereka dan terwariskan kepada seluruh anak keturunannya, sehingga tak seorang pun dari mereka yang bisa terbebas dari dosa, kecuali berdasarkan upaya mereka sendiri. Oleh karena itu Augustinus mengatakan bahwa hakikat kehidupan manusia di bumi ini hanyalah sebuah penebusan dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa terdahulu.[34]

Zaman lampau sebagai perwujudan kehendak Tuhan adalah cermin atau hikmah untuk mengetahui kodrat ilahi. Zaman  yang akan datang adalah medan perjuangan untuk mendapatkan tempat di Civitas Dei.

 

  1. E.     IBN KHALDUN

 

Wali al-Din Abdurrahman bin Muhammad ibn Hasan ibn Jabir ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Abdurrahman ibn Khaldun lahir di Tunisia-Afrika Utara pada 1 Ramadhan 732 H/27 Mai 1332 M dan meninggal di Kairo pada tahun 808/1406 M. Beliau hidup pada abad ke-14 M yaitu ketika umat Islam mengalami zaman kemunduran dan perpecahan, sedangkan Eropa mengalami kebangkitan zaman Renaissans. Kemunduran yang dimaksudkan disini ialah berlakunya perpecahan dikalangan umat Islam dengan mazhab dan juga perpecahan dikalangan kaum Barbar, sebagian mendukung pemerintahan al-Murabitin dan sebagian yang lain mendukung kerajaan al-Muwahhidun.[35] Akibatnya, umat Islam  mengalami kemunduran dalam bidang intelektual sehingga kebanyakan karya-karya yang muncul ketika itu hanya berbentuk syarah terhadap karya-karya di zaman keagungan Islam yaitu sekadar memberi uraian dan penjelasan yang lebih mendalam terhadap sebuah karya terdahulu. Berbeda dengan karya Ibn Khaldun yang telah menghasilkan sebuah ide baru khususnya dalam bidang pensejarahan. Beliau telah mempelajari bidang keagamaan ketika zaman mudanya yang secara tidak langsung mempengaruhi pemikiran dan penulisan karya-karyanya. Hal ini terbukti Ibn Khaldun telah meletakkan pengecualian terhadap mukjizat para nabi dalam konsep sebab-akibat di dalam filsafat dan metode sejarahnya. Pegangan inilah yang membedakan di antara seorang ilmuwan Islam dengan ilmuwan barat. Walaupun seseorang bebas untuk menggunakan akal fikiran dalam mengkaji alam, namun agama menjadi pembimbing dalam menentukan semua gerak kehidupan. Berbeda dengan konsep keilmuan dalam dunia barat yang menganggap agama sebagai pengungkung manusia mencapai kemajuan.

Ibn Khaldun telah menulis karya bersejarah seperti al-Muqaddimah yang merupakan pendahuluan karya besarnya al-I’bar menguraikan bahwa sejarah menjadikan manusia mengenal kondisi masa lalu suatu bangsa yang direfleksikan dalam karakter kebangsaan. Hal ini yang menjadikan kita mengenal biografi nabi-nabi dan dinasti-dinasti dengan segala aturan kebijakannya. Penulisan sejarah juga menghendaki adanya sumber-sumber yang banyak dan varian pengetahuan yang tinggi. Beliau juga mengharuskan ahli sejarah mempunyai pemikiran yang spekulatif dan ketelitian. Dua prinsip ini yang akan mengawalnya untuk mencapai kebenaran dan menjaganya dari kesalahan.[36]

Kitab Muqaddimah tersebut merupakan pendahuluan sebuah kitab atau karya yang lebih besar berjudul Kitab al-’Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-khabar fi Ayyam al-’Arab wa Al-’Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawi al-Sulthan al-Akbar. Dari karya al-Muqaddimah inilah Ibnu Khaldun merumuskan hukum sejarah. Dalam pandangannya sejarah tidak lebih dari sekedar menguraikan tentang peristiwa-peristiwa, nama-nama penguasa atau silsilah keturunan dan angka-angka tahun. Menurut Ibn Khaldun pengetahuan itu tidak mewakili wawasan disiplin ilmu sejarah. Pemikiran Filsafat sejarah Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah secara luas dibahas dalam bab dua kitab al –I’bar.

Selain dari kitab al-Ibar yang terkandung di dalamnya kitab Muqaddimah, Ibn Khaldun juga telah menghasilkan sebuah kitab yang memaparkan otobiografi hidupnya. Kitab ini berjudul al-Ta’rif bi Ibn Khaldun wa Rihlatuh Garban wa Syarqan. Al-Ta’rif telah mencatatkan riwayat hidup Ibn Khaldun sejak masa mudanya hingga ke beberapa bulan sebelum kematiannya.

 

Filsafat Sejarah menurut Ibn Khaldun

Filsafat sejarah menurut Ibn Khaldun yaitu mengkaji fenomena-fenomena sosial secara lebih umum, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, mengkajinya dari segi tujuan yang ingin dicapai, serta hukum mutlak yang mengendalikannya sepanjang sejarah. Dalam pandangannya masyarakat merupakan mahluk histories yang hidup dan berkembang sesuai dengan hukum khusus, yang berkenaan dengannya. Hukum itu dapat diamati dan dibatasi lewat pengkajian terhadap sejumlah fenomena sosial. Ia berpendapat sesungguhnya ‘ashabiyyah merupakan asas berdirinya suatu negara, dan faktor ekonomis yang merupakan faktor penting yang menyebabkan terjadinya perkembangan masyarakat. Dari pendapat itu, Khaldun dapat dianggap sebagai tokoh pelopor materialisme sejarah, jauh sebelum Karl Marx. Dengan karyanya terkenal sebagai perintis dan pelopor The Culture Cycle Theory of History, yaitu satu teori Filsafat sejarah yang telah mendapat pengakuan di dunia Timur dan Barat tentang kematangannya. Khaldun dengan teorinya berpendapat bahwa sejarah dunia itu adalah satu siklus dari setiap kebudayaan dan peradaban. Ia mengalami masa lahirnya, masa berkembang, masa puncaknya kemudian masa menurun dan akhirnya masa kehancuran.  Khaldun mengistilahkan siklus ini dengan tiga tangga peradaban.[37] Dalam buku Epistimologi Sejarah Kritis Ibnu Khaldun, Toto Suharto menambahkan bahwa masa lahir, masa berkembang hingga masa kehancuran tersebut akan mengalami suatu proses siklus menuju evolusi dan proses sehingga membentuk spiral.[38]

 

Gerak Sejarah menurut Ibn Khaldun

Konsep gerak sejarah Ibn Khaldun mengikut pada tiga aliran Filsafat sejarah. Pertama, aliran sejarah sosial. Aliran ini berpendapat bahwa fenomena-fenomena sosial dapat ditafsirkan, dan teori-teorinya dapat dihuraikan dari fakta-fakta sejarah. Kedua, aliran ekonomi. Aliran ini menafsirkan sejarah secara materialis dan menguraikan fenomena-fenomena sosial secara ekonomis. Setiap perubahan dalam masyarakat dan fenomena-fenomenanya merujuk pada faktor ekonomi. Karl Marx adalah tokoh yang mengembangkan aliran Filsafat sejarah ini. Ketiga, aliran geografis. Aliran ini memandang manusia sebagai putra alam lingkungan, dan kondisi-kondisi alam di sekitarnya. Oleh karena itu dalam penyejarahannya, seseorang, masyarakat dan tradisi-tradisinya dibentuk oleh lingkungan dan alam dimana ia berada. Alam dan lingkungan memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat, walaupun manusia sendiri juga bisa mempengaruhi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut Ibn Khaldun fenomena-fenomena sosial tunduk pada hukum perkembangan. Demikian juga dengan gerak sejarah, ia mengalami perkembangan, yaitu mempunyai corak dialektis.

Selanjutnya dalam pandangan Ibn Khaldun ada tiga faktor dominan yang mempengaruhi dan mengendalikan perkembangan perjalanan sejarah dari waktu ke waktu. Pertama, faktor ekonomi. Menurut Ibn Khaldun kegiatan ekonomi menentukan bentuk kehidupan. Perbedaan agama seseorang bisa lahir karena penghidupan, keadaan dan waktu. Kegiatan ekonomi menjadi salah satu yang terpenting dalam mengendalikan kehidupan sosial, politik, moral masyarakat dan pikiran mereka. Kedua, faktor geografis, lingkungan dan iklim. Pengaruh geografi misalnya orang yang menempati kawasan yang kaya hasil bumi, biasanya cenderung malas-malasan dan pengaruhnya mereka akan malas serta lamban dalam berpikir. Sedangkan orang yang menempati kawasan yang miskin hasil bumi, cenderung rajin dalam bekerja karena makanannya terbatas tetapi minda mereka lebih tajam. Ketiga, faktor agama. Ibn Khaldun meyakini adanya pengaruh dan pengarahan Tuhan terhadap segala yang terjadi. Ia berkesimpulan bahwa hubungan antara Tuhan dan manusia wujud pada setiap ruang dan masa. Alam dan seisinya dibagikan kepada manusia sebagai khalifah-Nya. Sisi inilah yang membuktikan bahwa Ibn Khaldun merupakan seorang pemikir dan ahli Filsafat sejarah Islam. Ia mampu menghubungkan antara ekonomi, alam dan hukum determinisme dalam sejarah.

Berkaitan dengan hukum determinisme sejarah, Ibn Khaldun menguraikannya dalam tiga hukum. Pertama, Hukum Sebab-Akibat (Legal Causality) yaitu hukum determinisme yang berkaitan dengan ilmu-ilmu kealaman pada asal mulanya. Khaldun menerapkan dan menjadikan hukum ini sebagai salah satu diantara dua prinsip Filsafatnya. Ia meyakini adanya hubungan sebab-akibat antara realitas dengan fenomena. Ia berasumsi bahwa semua realitas di alam ini dapat dicari hukum kausalitasnya. Kecuali mukjizat para nabi dan karomah para Wali. Kedua, Hukum Peniruan (Legal Copying). Menurut Khaldun peniruan itu sendiri merupakan satu hukum yang umum. Peniruan bisa menyebabkan kesamaan sosial. Ia menguraikan bahwa kelompok yang kalah selalu meniru kelompok yang menang dalam pakaian, tanda-tanda kebesaran, aqidah dan adat. Ketiga, Hukum Perbedaan (Legal Differences). Hukum ini juga diasumsikan sebagai salah satu hukum determinisme sejarah. Masyarakat menurut Ibn Khaldun tidaklah sama secara mutlak, tetapi terdapat perbedaan-perbedaan yang harus diketahui oleh sejarawan. Lebih jauh Ibn Khaldun menghubungkan bahwa perbedaan-perbedaan semakin membesar karena faktor geografis, fisik, ekonomi, politik, adat istiadat, tradisi dan agama.

Selain itu menurut Ibn Khaldun, sumber (rujukan) memainkan peranan menjadikan sebuah karya itu berwenang atau sebaliknya. Sumber bisa dibagi dua jenis yaitu sumber pertama yang disebut sebagai sumber primer dan sumber kedua yang disebut sebagai sumber sekunder. Sumber pertama adalah sumber yang berada dalam keadaan asli atau sebelum ditafsirkan. Sedangkan sumber kedua ialah merupakan hasil ataupun karya yang ditulis seseorang terhadap sesuatu peristiwa atau perkara yang didasarkan kepada sumber pertama. Ibn Khaldun telah menggunakan pendekatan atau kaidah ilmu hadith dalam menilainya terhadap sumber yang mengandung informasi berkaitan dengan syariat Islam. Kaidah ilmu hadith yang dimaksudkan disini dengan jalan mengkaji dari sudut periwayatan dari seorang individu kepada individu yang lain hingga sampai ke Nabi Muhammad SAW.

 

  1. F.       Giambattista Vico

Giovanni Battista (Giambattista) Vico atau Vigo (23 Juni 1668 – 23 Januari 1744) adalah seorang filsuf politik Italia, ahli pidato, sejarawan, dan ahli hukum. Seorang kritikus rasionalisme modern dan apologis kuno klasik, Vico magnum opus adalah Principi di Scienza Nuova d’Natura intorno alla Comune delle Nazioni, sering diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai Ilmu Baru, yang dapat harfiah diterjemahkan sebagai “Prinsip / Asal Usul Baru / Pembaruan ilmu Tentang / Sekitarnya Sifat umum dari Bangsa “. Karya ini secara eksplisit disajikan sebagai “ilmu penalaran” (Scienza di ragionare), dan termasuk dialektika antara aksioma (maksim otoritatif) dan “penalaran” (ragionamenti) menghubungkan dan klarifikasi aksioma. Vico sering diklaim sebagai filosof yang memiliki filsafat sejarah modern, meskipun istilah ini tidak ditemukan dalam teks (Vico berbicara tentang suatu “sejarah filsafat diriwayatkan filosofis”). Lahir penjual buku dan putri seorang pembuat kereta di Naples, Italia, Vico menghadiri serangkaian sekolah tata bahasa, tapi sakit dan ketidakpuasan dengan skolastik Yesuit menyebabkan home schooling.

 

Setelah serangan tifus pada 1686, Vico menerima posisi les di Vatolla (sebuah Frazione dari pemerintah ataupun dari Perdifumo), selatan Salerno, yang akan berlangsung selama sembilan tahun. Pada 1699, ia menikah dengan teman masa kecil, Teresa Destito, dan mengambil kursi dalam retorika di Universitas Naples. Pada 1734, ia diangkat penulis sejarah kerajaan oleh Charles III, raja Naples, dan diberikan gaji yang jauh melebihi yang dari jabatan profesor. Vico mempertahankan kursi retorika sampai sakit, kesehatannya memaksanya untuk pensiun pada 1741.

 

Filsafat Sejarah Giambattista Vico

Giambattista Vico seorang filosof sejarah dan sosial yang hidup di Italia pada akhir abad ketujuh belas dan permulaan abad kedelapan belas. Nama filosof sejarah Italia Giambattista Vico (1668-1744) memang jarang dikenal, padahal jasanya begitu besar terutama dalam teorinya tentang gerak sejarah ibarat daur cultural spiral yang dimuat dalam karyanya The New Science (1723) yang telah diterjemahkan Down tahun 1961[39]. Atau mungkin karena teorinya yang sering diidentikkan dengan teori siklus di mana nama-nama besar tokoh lainnya seperti Pitirim Sorokin (1889-1966), Oswald Spengler (1880-1936), Arnold Toynbee (1889-1975), melebihi bayangan nama besarnya. Secara makro, pokok-pokok pikiran Vico yang tertuang dalam teori daur spiralnya dalam The New Science[40]  tersebut sebagai berikut:

a. Perjalanan sejarah bukanlah seperti roda yang berputar mengitari dirinya sendiri sehingga memungkinkan seorang filosof meramalkan terjadinya hal yang sama pada masa depan.

b. Sejarah berputar dalam gerakan spiral yang mendaki dan selalu memperbaharui diri, seperti gerakan pendaki gunung yang mendakinya melalui jalan melingkar ke atas di mana setiap lingkaran selanjutnya lebih tinggi dari lingkaran sebelumnya, sehingga ufuknya pun semakin luas dan jauh.

c. Masyarakat manusia bergerak melalui fase-fase perkembangan tertentu dan terjalin erat dengan kemanusiaan yang dicirikan oleh gerak kemajuan dalam tiga fase yaitu; fase telogis, fase herois, dan fase humanistis.

d. Ide kemajuan adalah substansial, meski tidak melalui satu perjalanan lurus ke depan, tetapi bergerak dalam lingkaran-lingkaran histories yang satu sama lain saling berpengaruh. Dalam setiap lingkaran pola-pola budaya yang berkembang dalam masyarakat, baik agama, politik, seni, sastera, hukum, dan filsafat saling terjalin secara organis dan internal, sehingga masing-masing lingkaran itu memiliki corak cultural khususnya yang merembes ke dalam berbagai rung lingkup kulturalnya (Colingwood, 1956: 67).

Vico mempercayai adanya kemajuan, tetapi setelah samapi pada puncaknya, sejarah berulang lagi. Karena itu teorinya merupakan gabungan antara pandangan sejarah linier dengan cyclus[41].

Menurut Vico, sejarah kemanusiaan bisa diletakkan dibawah interpretasi ilmiah yang teliti. Ia, dalam karyanya The New Science, berupaya menguraikan sebab-sebab terjadinya perubahan kultural yang menimpa masyarakat manusia. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa masyarakat manusia melalui fase-fase pertumbuhan, perkembangan, kehancuran tertentu. Sebab “di antara watak manusia ialah timbulnya gejala-gejala itu di bawah kondisi-kondisi tertentu dan sesuai dengan sistem-sistem tertentu. Jadi setiap kali kondis-kondisi itu terpenuhi, maka gejala-gejalaitu pun akan timbul.”

Selain itu Vico berpendapat bahwa masyarakat-masyarak manusia melalui berbagai lingkaran kultural, di mana masyarakat-masyarakat itu beralih dari kehidupan barbar ke kehidupan berbudaya atas tuntunan Ilahi yang memelihara wujud. Namun cirri yang mewarnai teori Vico tentang sejarah ialah keyakinannya bahwa berbagai aspek kebudayaan suatu masyarakat dalam fase mana pun dari sejarahnya membentuk pola-pola sama yang saling berkaitan satu sama lainnya secara substansial dan esensial[42]. Jadi,apabila dalam suatu masyarakat berkembang suatu aliran seni atau keagamaan tertentu, maka berkembang pula bersamanya pola-pola tertentu dari sistem-sistem politik, ekonomi, hukum, pikiran dan sebagainya.Teori Vico ini mempunyai dampak yang jelas terhadap banyak filosof sejarah setelahnya, seperti Herder, Hegel, dan Karl Marx, semuanya menurut caranya masing-masing.

Aliran Vico tentang daur kebudayaan ini sendiri ditegakkan di atas hubungan internal di antara berbagai pola budaya yang berkembang dalam masyarakat. Sebab ia menjadikan daur-daur kulturalnya satu sama lainnya saling melimpahi dan selalu memiliki perulangan. Tetapi perulangan itu tidak selalu berarti bahwa sejarah mengulang dirinya sendiri. Sebab perjalanan sejarah bukanlah roda yang berputar mengitari dirinya sendiri sehingga memungkinkan seorang filosof meramalkan terjadinya hal yang sama pada masa depan . Sedang menurut Vico, sejarah berputar dalam gerakan spiral yang mendaki dan selalu memperbaharui diri, seperti gerakan pendaki gunung yang mendakinya dengan melalui jalan melingkar ke atas di mana setiap lingkaran selanjutnya lebih tinggi dari lingkaran sebelumnya, sehingga ufuknya pun semakin luas dan jauh. Mungkin pembaharuan diri terus-menerus dari gerak sejarah inilah yang menjadi ciri teori Vico yang membedakannya dari teori-teori tentang daurkultural sejarah sebelumnya. Teori ini sendiri konsisten dengan suatu metode yang tegar tentang gerak ulang sejarah, yang melempangkan jalan untuk berpendapat tentang mungkin dilakukannya peramalan dalam kajian sejarah dan sulit menerima ide kemajuan seperti menurut Plato dan Machiavelli. Masyarakat-masyarakat manusia menurut Vico, dengan demikian, bergerak melalui fase-fase perkembangan tertentu yang berakhir dengan kemunduran atau barbarisme dan selanjutnya memulainya lagidari fase yang awal dan begitu seterusnya. Dengan demikian lingkaran-lingkaran sejarah, menurut Vico, dalam pendakian yang terus menerus terjalin erat dengan kemanusiaan. Dalam wawasan historis Vico, ide kemajuan adalah substansial, meski kemajuan ini sendiri tidak meallui satu perjalanan lurus ke depan tapi bergerak dalam lingkaran-lingkaran historis yang satu sama lainnya saling melimpahi. Dalam setiap lingkaran, pola-pola budaya yang berkembang dalam masyarakat, baik agama,politik, seni, sastera, hukum, dan filsafat saling terjalin secara organis dan internal,sehingga masing-masing lingkaran itu memiliki corak kultural khususnya yang merembeske dalam berbagai ruang lingkup kulturalnya.Atas dasar itu Vico membagi sjearah kemanusiaan menjadi tiga fase yang berkesinambungan, yaitu fase teologis, fase herois dan fase humanistis. Fase yang terkemudian, menurut Vico, adalah lebih tinggi ketimbang fase sebelumnya, daur kultural sempurna dengan fase ketiganya dengan lebih tinggi dibanding daur sebelumnya Adapun fase pertama oleh Vico disebut dengan masa ketuhanan.

Masa ini bermula pada waktu suatu bangsa mulai meninggalkan secara bertahap kehidupan primitive sebelumnya, untuk masuk pada masa ketuhanan. Masa ini sendiri diwarnai dengan berkembangnya berbagai khurafat dan rasa takut terhadap fenomena-fenomena alamyang dipandang sebagai teofani kehendak Ilahi, baik yang menunjukkan kemarahan-Nyata keridhaan-Nya. Selain itu masa ini juga didominasi oleh ide ruh baik dan ruh jahat yang menentukan nasib manusia. Lebih jauh lagi masa ini adaalh masa mitologi animistis yang dikendalikan oleh kekuasaan-kekuasaan kependetaan yang menyatakan bahwa hak-haknya dalam melaksanakan apa yang dipandangnya sebagai hukum didasarkan pada kehendak tertinggi Ilahi.

Dengan demikian, dalam periode kehidupan masyarakat pada fase ini, pembangkitan rasa takut akan amarah Tuhan yang terefleksikan dalam kemarahan alam merupakan sarana satu-satunya untuk mengendalikan perlawanan individu-individu dan melaksanakan hukum. Demikianlahciri-ciri umum masa ketuhanan seperti yang dideskripsikan Vico.Dengan terjadinya perkembangan secara bertahap, masyarakat pun masuk suatu masabaru yang disebut dengan masa para pahlawan. Fase ini bermula pada waktu masyarakat masa ketuhanan bersatu dan masuk pada kesatuan yang lebih besar guna menghadapi bahaya luar atau disintegrasi internal. Pada fase ini watak manusia begitu didominasi cinta kepada kepahlawanan dan pemujaan kekuatan, agama,sastera, dan filsafat mengambil corak mitologis khusus. Sementara kekuasaan pada masaini telah beralih dari tangan para pendeta dan tokoh agama ke tangan panglima perangdan ksatria. Dalam kondisi yang demikian kekuatan menjadi hukum yang berlaku dan kekuatan bersenjata yang menentukan kebenaran. Kondisi yang demikian ini eratkaitannya dengan sistem aristokratis yang didasarkan pada pemisah penuh antara hak-hak tuan dan hak-hak budak.

Pada waktu masyarakat awam, sebagai warga negara,memperoleh hak-hak mereka, masyarakat. pun mulai masuk fase ketiga, yaitu fasehumanistis. Masa ini diwarnai dengan demokrasi, pengakuan kesamaan manusia, dankeruntuhan sistem otoriter. Ia adalah masa rasional yang mempercayai manusia dan berupaya untuk menguasai alam di mana fenomena-fenomenanya kini lagi dipandang erat kaitannya dengan amarah dan keridhaan Tuhan.Namun dalam masa ini, menurut Vico, terkandung benih keruntuhan dan kehancuran.Sebab demokrasi dan pernyataan persamaan anggota-anggota masyarakat segera akanmendorong rakyat awam mempunyai sikap yang ekstrem dalam menuntut hak-hak mereka yang secara bertahap kemudian mereka peroleh. Tapi ini membuat semakinmeningkatnya konflik antara kelas masyarakat, bukannya meredakannya, sehingga melemahkan hubungan-hubungan tradisional antara kelas-kelas itu dan membangkitkankeraguan terhadap sebagian nilai-nilai tradisional yang diterima tradisi-tradisi sosial yangdiakui. Akibatnya adalah terjadi disintegrasi dan kerusuhan yang merupakan pertandaberakhiriya daur kebudayaan seluruhnya.

Apabila suatu masyarakat telah memasukikondisi disintegrasi yang demikian ini, sulitlah untuk melakukan perbaikan internal dantidak ada yang tinggal kecuali ekspansi asing dari luar atau disintegrasi sosial total daridalam, di mana setelahnya masyarakat kembali pada kehidupan barbar guna memulaidaur kultural yang baru. Setelah itu – dengan melalui pola yang sama – dengan secara bertahap masyarakat itu pun beranjak dari masa ketuhanan ke dalam masa parapahlawan dan kemudian masa humanistis yang membuatnya kembali pada ke hidupan barbar lagi. Kondisi yang demikian ini berlaku terus-menerus[43].

 

  1. G.    Maskhun Tamami ( Analisis )

 

Bermacam-macam teori yang telah dicetuskan oleh banyak filosof diantaranya dapat dilihat di ulasan paper diatas misalnya filosof Santo Agustinus, Ibn Khaldun, Spengler, Toynbee, Karl Marx  dan masih banyak tokoh-tokoh filusuf yang lainya. Setelah saya membaca dan menganalisis dari beberapa teori-teori yang telah mereka hasilkan. Saya memilih teori siklus dikarenakan setiap peradadban besar mengalami mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan keruntuhan, dimana proses-proses tersebut terus berulang. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh beberapa filsuf seperti Ibn Khaldun, Spengler, Toynbee dan mungkin beberapa tokoh yang lain. Namun saya tidak sependapat dengan pemikiran Spengler yang mana proses perputaran itu bisa diukur dengan kurun waktu seribu tahun dikarenakan dalam proses perputaran tersebut manusia, prilaku dan budaya semakin berkembang dan maju bahkan bisa mundur kembali yang mana dapat dilihat ketika minoritas kreatif kehilangan daya ciptanya dan kebejatan moral sudah menguasai mayoritas, suatu peradaban akan mengalami kemunduran yang akhirnya dilanjutkan dengan kehancuran dan diganti dengan peradaban yang baru, begitu seterusnya. Proses perputaran tersebut melahirkan peradaban baru yang bisa jadi lebih unggul dibandingkan peradaban-peradaban sebelumnya. Sekalipun sudah bisa diketahui ciri-ciri suatu peradaban akan mengalami kehancuran, namun tidak ada yang bisa menentukan berapa lama waktu yang diperlukan dalam satu proses perputaran tersebut.

 

Sedangkan mengenai sifat gerak sejarah, dalam Al-quran sudah dijelaskan bahla Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak merubah nasibnya sendiri, bisa ditarik kesimpulan bahwa terdapat keseimbangan kehendak tuhan dan usaha manusia Dengan kata lain, saat manusia berusaha untuk merubah sesuatu yang sudah ditetapkan untuknya, maka Tuhan bisa merubah ketetapan itu. Sedangkan tujuan gerak sejarah itu sendiri adalah ketetapan Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[2] T. Z. Lavine, Petualangan Filsafat dan Socrates ke Sortre (Yogyakarta: Jendela, 2002), 259

[3] Franz Magnis-Suseno, Berfilsafat dari Konteks (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1992), 63

[4] Ibid., 66

[8] Rustam E. Tamburaka. Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan Iptek (Jakarta: PT. Rineka Cipta,1999), 63

[11] Ibid.

[12] Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat, dan Iptek (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999), 12

[14] Ibid.,

[16] Biyanto, Teori Siklus Peradaban Perspektif Ibnu Khaldun (Surabaya: LPAM, 2004), 20-21

[17] Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat, dan Iptek (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999), 65-66

[18] Biyanto, Teori Siklus Peradaban Perspektif Ibnu Khaldun (Surabaya: LPAM, 2004), 130-131

[21] Rustam E. Tamburaka, Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat, dan Iptek (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999), 66-67

[22] Robert C. Solomon dan Kathleen M. Higgins. Sejarah Filsafat (Jogjakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2000), 244.

[23] Tasmuji. Sejarah Filsafat Aliran; Mengenal Aliran, Tokoh Filsafat Kuno dan Abad Pertengahan  (Surabaya: Alpha, 2005), 80.

[24] Ahmad. Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001), 83.

[26] Robert C. Solomon dan Kathleen M. Higgins. Sejarah Filsafat (Jogjakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2000), 245.

[27] Ahmad. Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001), 84.

[28] Robert C. Solomon dan Kathleen M. Higgins. Sejarah Filsafat (Jogjakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2000), 244-255.

[29] Tasmuji. Sejarah Filsafat Aliran; Mengenal Aliran, Tokoh Filsafat Kuno dan Abad Pertengahan  (Surabaya: Alpha, 2005), 80.

[30] Alex Howard. Konseling dan Psikoterapi Cara Filsafat (Bandung: PT Mizan Publika, 2005),  110.

[31] Ahmad. Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001), 87

[32] Ahmad. Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001),  92.

[38] Toto Suharto. Epistimologi Sejarah Kritis Ibnu Khaldun (Bantul: Fajar Pustaka Baru, 2003), 97-104

[39] Sejarah.doc

[40] dalam Downs, 1961: 113; Al-Sharqawi, 1986: 147-148

[41] Rustam E. Tamburaka. Pengantar ilmu sejarah; teori filsafat sejarah;sejarah filsafat dan IPTEK. Jakarta: ANGGOTA IKAPI, 1999. Hal 62.

[42] pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/gerak_sejarah.pdf

[43] pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/gerak_sejarah.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s